Arsip untuk Mei, 2006

Dilema kita soal parpol: kita dukung, mereka ngawur (kita cuek, mereka kian ngawur)

30 Mei 2006

Pagar jalan layang di Slipi, Jakarta, dipenuhi bendera tiga partai. Tempat lain juga. Saya belum menghitung lebih efektif mana menyewa billboard atau memesan ribuan bendera dan tiang bambu untuk me-recall ingatan khalayak terhadap keberadaan partai.

Kita sudah dua kali punya pemilu multipartai. Maksud saya pada masa pasca-Harto. Puaskah kita dengan hasil pemilu itu? Maksud saya puas terhadap kinerja partai dan wakil-wakil partai di parlemen? Baca entri selengkapnya »

Timor Leste & Merapi Merbabu Complex: repotnya mengurusi kaum bersenjata

26 Mei 2006

Timor Leste bergolak, sampai harus mendatangkan pasukan asing. Pangkal masalahnya kayaknya tipikal negara baru. Penataan personel militer, atas nama apapun, dari rasionalisasi sampai penertiban disiplin, bakal menimbulkan khaos oblong, makanya orang pada main obong.

Rupanya proses perubahan dari laskar dan gerombolan bersenjata menjadi satuan militer regular yang profesional itu bukan perkara gampang. Tidak semudah dolanan bedil.
Baca entri selengkapnya »

Frans Seda, Tommy & Elsa

25 Mei 2006

Opa Frans Seda ini ada-ada saja. Masa sih dia meminta Elsa Syarif menjaga Tommy "si anak kecil" itu. Lha ya kelintu toh Opa Frans. Permintaan itu mestinya untuk Kepala LP Cipinang.

BTW, kenapa akhirnya Elsa yang awet jadi pengacara Tommy? Keluarga Cendana merestui karena yakin bakal aman.
Baca entri selengkapnya »

Harto tidur nyenyak

25 Mei 2006

Enak bener. Dia bisa tidur nyenyak. Cuek seperti sediakala. Betul-betul kemlinthi. Abai terhadap derita rakyat. Konon sejak dulu dia memang pakai obat bius. Pecandu, gitu lho.

Kategorisasi dalam blog ini

24 Mei 2006

Ada yang menyoal kenapa kategori dalam blog ini membingungkan. Tiada pembeda yang jelas antara "kemaki", "mbagusi", dan "gembelengan". Pasti si penanya lupa bahwa saya ini fashionable.

Memang, saya bukan fashionista, tapi saya suka mengikuti mode, ikut arus, terutama untuk hal-hal yang kemlinthi dan membingungkan. Jadi, kalau penguasa, militer, politikus, penggerak massa, boleh berkacau diri dalam melihat persoalan, kenapa saya tidak? Baca entri selengkapnya »