Dilema kita soal parpol: kita dukung, mereka ngawur (kita cuek, mereka kian ngawur)

30 Mei 2006

Pagar jalan layang di Slipi, Jakarta, dipenuhi bendera tiga partai. Tempat lain juga. Saya belum menghitung lebih efektif mana menyewa billboard atau memesan ribuan bendera dan tiang bambu untuk me-recall ingatan khalayak terhadap keberadaan partai.

Kita sudah dua kali punya pemilu multipartai. Maksud saya pada masa pasca-Harto. Puaskah kita dengan hasil pemilu itu? Maksud saya puas terhadap kinerja partai dan wakil-wakil partai di parlemen?

Saya memang golput, tapi merasa berhak untuk bilang tak puas. Mereka mengecewakan. Maka saya tak paham jika mereka, partai-partai itu, merasa menjadi pengusung pembaruan.

Makanya saya heran, apa perlunya partai Sjahrir mengundang presiden dalam kongresnya. Kayak zaman Harto saja: sebuah kongres orpol/ormas hanya akan sah jika dibuka oleh presiden.

Ibarat baju, belum ada partai yang cocok untuk saya. Bahwa partai-partai itu menganggap saya tak cocok untuk mereka, karena saya memang bukan siapa-siapa, tentu saja itu masalah mereka. Tak apa, demokrasi juga memberi kesempatan kepada setiap orang dan organisasi untuk kemlinthi.

Tapi apa boleh buat, sekemlinthi-kemlinthinya partai, mereka adalah bagian dari mesin demokrasi berbangsa dan bernegara (gagah sekali istilah saya), bahkan merupakan sebuah keharusan. Bagaimana rakyat akan merumuskan kepentingannya, dan berembuk, kalau tak ada wadah?

Masalahnya, apakah partai-partai itu memang mewakili kepentingan rakyat, dan bukan cuma memobilisasi dukungan rakyat untuk kepentingan mereka? Kasarnya: apakah mereka nggak cuma memelintir agregasi kepentingan menjadi manipulasi kepentingan atas nama konstituen?

ita boleh cuek terhadap partai. Tapi ini pun akan menambah masalah karena tanpa kontrol kita, partai-partai akan semakin merasa dirinya benar, dan parlemen dijadikan arena kesepakatan politik bermutu rendah.

Jadi, kita yang tak puas ini sebaiknya bikin partai baru, katakankah Partai Kemlinthi Silitminthi Indonesia? Ini pun bukan cara yang menyenangkan karena hanya akan menambahi pekerjaan dan menaikkan tensi. Belum lagin soal kemungkinan kita terkontaminasi oleh kebusukan politik yang berlangsung.

Inilah dilema kita. Mestinya sih semua partai itu beres, sehingga kita bisa memilihnya seperti saat membuka lemari baju. Pemilu sekarang pilih yang ini, tapi karena tak puas maka pada pemilu berikutnya kita pilih partai yang lain.

2 Tanggapan ke “Dilema kita soal parpol: kita dukung, mereka ngawur (kita cuek, mereka kian ngawur)”

  1. bajigur Berkata

    oh, sekarang saya tau. blog gombal itu yang angin-anginan tur waton suloyo,, kemlinthi utk yg bersifat pulitik praktis bin kejadian terkini, semprul sontoloyo buat campur-campur…..ada lagi ndak yang lain?

    …dan blog bajigur untuk segala hal yang bajindul bajinguk barjiman :D  

  2. Bang Pi'i Berkata

    ha mbok ditambah yg khusus buat esek-esek!! halah!!!

    apa? bikin blog esek2? lbh enak melakukan ato liat web orang lain daripada bikin sendiri :D


Tinggalkan Balasan