Playboy Indonesia: memang sial

12 Juni 2006

Cuma satu kata untuk Playboy edisi Indonesia: sial. Ya, penerbit majalah hiburan pria dewasa itu menyandang nama sial. Playboy kadung jadi ikon hiburan dewasa. Padahal kalau kita mau menuding soal ketelanjangan dan percabulan, masih ada banyak media yang lebih panas dan pedas.

Kesialan lain, Playboy Indonesia nongol ketika kontroversi RUU-AP belum usai. Bukan hanya belum usai, malah ada kecenderungan sebagian kaum pro-RUU memetakan masalah secera sederhana untuk kepentingan propaganda: mereka yang menolak RUU berarti pro-pornografi.

Kesialan terbaru, setelah nongol edisi kedua, adalah antiklimaks: sebagian kalangan di Bali menolak Playboy berkantor di sana, dengan alasan kantor Playboy tak membawa nilai tambah bagi Bali.

Bagi FPI dan FBR di Jabodetabek, tentu saja ini bukan kesialan, melainkan keuntungan. Balon yang mereka tiup dan dilepas ke udara mendapatkan sambutan, meski dengan alasan yang tak seratus persen sama.

Kesialan yang belum terungkap: seberapa sih sebetulnya duit yang kadung dirogoh investor Playboy Indonesia untuk disetor ke Christie Hefner sebagai imbalan beli lisensi, berikut konsekuensi legal yang berbuntut duit?
Membeli lisensi penerbitan asing itu bukan persoalan sepele. Ada sejumlah syarat yang berat, dari editorial, laporan keuangan, royalti, bagi hasil iklan, sampai garansi bank.

Lebih gampang bikin majalah lokal dengan merek sendiri, modal secukupnya, cuma berkantor di ruko apek, dengan pegawai yang tak dilindungi oleh asuransi dan jaminan hari tua. Untuk pos editor bisa main comot. Tapi, katakanlah, untuk menerbitkan majalah wanita Elle Indonesia, pemilik merek mensyaratkan editornya harus wanita 25+, dari kelas menengah ke atas, tamatan sekolah luar negeri, fashionista, urban, dan seterusnya yang bikin mungkret wartawati pengguna mikrolet pelanggan warteg.

Bikin majalah berlisensi asing jelas mahal. Kalau modal tak balik, baik karena sirkulasi maupun iklan, artinya sial.

5 Tanggapan ke “Playboy Indonesia: memang sial”

  1. pecas ndahe Berkata

    kayaknya mesti ganti nama jadi SIALBOY. atau dibikin versi komiknya aja yo, mbah? sampean mesti luwih seneng to … :D

  2. rendy Berkata

    gw masih ada 1 majalah pb yang lom d buka…

    nanti lah,, buat kenang kenangan ke anak cucu… :) )

  3. Mbilung Berkata

    Setuju, bikin yang lokal saja. Pake nama “Dolanan Lanang” bermotto “kemudahan bersenang-senang” dan berhadiah sisipan tisu basah. Objek foto, banyak di pinggir kali atau mbelik. :D

  4. Haqiqie Suluh Berkata

    Setuju juga, bikin yang udah tentram jadi runyam….


Tinggalkan Balasan