Satu lagi tambahan pekerjaan Badan Intelijen Negara. Dulu BIN memiara rusa comotan dari Istana Bogor untuk kemudian dikirim ke Monas yang berpagar. Mungkin di Kalibata, Jakarta Selatan, rusa-rusa itu dicuci otaknya: atas nama keamanan negara maka rumput, kertas, dan plastik itu sama; boleh dimakan.
Sekarang BIN mau mengontrol printer berwarna dari jenis multifungsi (bisa scan dan ngefaks). Alasannya? Untuk mencegah pemalsuan uang.
Sungguh mulia. Mestinya BIN juga mengawasi produksi, distribusi, dan pemilikan pisau dapur maupun gunting kain, karena benda-benda tajam itu bisa dipakai untuk membunuh.
Dulu peredaran mesin fotokopi berwarna dihambat dengan alasan serupa. Ketika harga si kopier masih mahal, hambatan itu belum terasa.
Sekarang ketika multifunction printer memurah (jenis inkjet cuma Rp 1 jutaan), maka kekhawatiran dan sekaligus pengawasan terhadap benda-benda itu adalah berlebihan, bahkan konyol.
Tampaknya orang-orang intelijen itu mengabaikan dua hal. Pertama: teknologi pencetakan uang, sebagai yang tertinggi dalam security printing, bukan soal gampang. Kedua: masyarakat juga kian pintar membedakan uang asli dan palsu, dan jadi tugas Bank Indonesia untuk kasih penerangan – juga jangan lupa: harga detektor uang pun kian murah.
Bisnis pencetakan uang (asli) adalah bisnis yang ketat, tak semudah sablon-menyablon. Terlalu ekstrem? Baik, saya koreksi: tak semudah bikin percetakan offset.
Sektor itu butuh teknologi dan syarat khusus, dari kertas (makanya bisa jadi skandal dalam pengadaannya), tinta sampai mesin. Kalau niatnya mencegah pemalsuan, awasi saja jalur itu. Sama seperti Polri dapat bisikan dari DEA dan Interpol tentang pembelian dan impor mesin pencetak tablet. Diloloskan dulu di pelabuhan, setelah terbukti untuk bikin ekstasi tinggal digerebek. Jadi kalau ada orang memesan peralatan security printing, tinggal diawasi.
Tak perlu meminta penjual maupun pemilik MFP meregistrasi peralatannya. Ini sama bodohnya dengan Harmoko dulu mewajibkan pemilik antena parabola melapor ke Deppen untuk mencegah pengaruh buruk media asing.
Jangan-jangan nanti BIN akan mengontrol Google, blog, dan semua layanan internet – bahkan nomor seri prosesor komputer pun akan kena wajib registrasi, tapi bingung mengawasinya, karena lebih mudah mendata IP dan nomor seri sopwer (minta bantuan anggota BSA?). Namanya akan diganti menjadi Badan Idih Ngaco deh.

26 Juni 2006 pada 11:06 pm
Awalnya saya pikir paranoid.
Ternyata memang logika si BIN yang hwarakadah salah kaparah.
Seperti ada kuda sakit dikaki. Supaya kakinya nggak sakit lagi, maka tembak kepala sikuda.
Tepat sasaran, tapi salah implikasi.
27 Juni 2006 pada 9:42 am
HE??? AH?! MOSOK TO?! HE? HAIH HAIH. MBUH!!!
28 Juni 2006 pada 12:57 am
ha? register printer? aneh sekali…..
28 Juni 2006 pada 7:56 am
seharusnya waktu install driver, dia langsung mendaftarkan printer tersebut ke bin.go.id
–budiw
28 Juni 2006 pada 10:09 am
aih aih.. bin mending ngurusin yang lain yang lebih penting! dogol.. huehuehue dasar badan intelegensi ngawur
5 Juli 2006 pada 1:04 am
segitunya ya
4 Oktober 2006 pada 4:18 pm
mungkin BIN mikirnya gini : daripada ngurusin susah, urusin aja yang mudah…
8 Oktober 2006 pada 1:33 am
emang kalo dipikir pikir…semuaaaaaa pejabat n lembaga di indonesia sakit jiwa……jangan222 semuanya emang mikir pake dengkulnya..
3 November 2006 pada 6:34 pm
huahahahaha…
16 November 2006 pada 3:59 pm
BIN kok sukanya aneh – aneh yaaa
apa bisa digantika dengan Mr. Bean
18 April 2007 pada 1:58 pm
la wong di jaga koq nggak mau, dasar wong deso lan goblok